CERPEN SETANGKAI MELATI DI PINGGIR JALAN KARYA SAKILA SALSA PRATIWI
NAMA: SAKILA SALSA PRATIWI
NIM: 24016154
SETANGKAI MELATI DI PINGGIR JALAN
KARYA SAKILA SALSA PRATIWI
Pagi itu, seperti biasa, Lestari bangun lebih awal dari ayam berkokok. Tangannya cekatan mengikat rambutnya yang mulai memutih, kemudian mengenakan kebaya lusuh yang sudah menjadi pakaian sehari-harinya. Hari ini adalah hari yang istimewa. Bukan karena ada pesta atau perayaan, melainkan karena Lestari akan mengantarkan melati terbaik dari kebunnya ke pasar. Sesuatu yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun. Melati-melati itu bukan sekadar bunga bagi Lestari. Bunga putih kecil dengan wangi lembut itu adalah harapan terakhirnya. Harapan yang disematkan pada setiap tangkai yang ia rawat dengan hati-hati. Harapan untuk anak semata wayangnya, Rangga, yang kini tengah merantau di kota besar, mengejar impiannya menjadi insinyur. Setiap kali ia mengirim uang hasil jualan melati, ia selalu membayangkan Rangga akan pulang dengan segulung ijazah di tangannya, siap membangun masa depan yang lebih baik. Di dalam hati kecilnya, ia tahu, pendidikan Rangga adalah investasi yang ia berikan dengan penuh cinta, meski harus menelan pahitnya hidup sederhana.
Hari itu, langkahnya terasa lebih ringan. "Mungkin karena Rangga akan pulang minggu depan," pikirnya sambil tersenyum. Sesekali ia menyeka keringat di dahinya, berjalan menuju pasar yang letaknya hampir dua kilometer dari rumahnya. Namun, di tengah jalan, sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi. Lestari tak sempat menepi. Suara klakson terdengar keras, dan segalanya seakan bergerak dalam lambat. Bakul melati di tangannya jatuh terhempas, dan tubuh Lestari terpental ke pinggir jalan. Orang-orang berkerumun. Beberapa berteriak, "Tolong, panggil ambulans!" Namun, Lestari hanya tersenyum lemah. Pandangannya mulai kabur, namun pikirannya tetap tertuju pada Rangga. Dalam kesakitan itu, ia berbisik lirih, “Melati ini... untuk masa depanmu, Nak.” Beberapa saat kemudian, tubuh Lestari tak lagi bergerak. Di sebelahnya, setangkai melati yang tersisa di pinggir jalan tetap harum, seolah menjadi saksi bisu dari pengorbanan seorang ibu. Di rumah sakit, Rangga menerima berita duka itu dengan tangis yang tertahan. Ia pulang, namun tidak dengan cara yang ia harapkan. Di tangan ibunya, ia menemukan setangkai melati yang sudah layu, namun baunya masih melekat. Bunga itu, baginya, adalah simbol pengorbanan yang tak terbalas, dan dia berjanji untuk mewujudkan impian sang ibu dengan cara apapun.